Video, Apakah Itu? Bukan Apakah Itu Video?
Diterbitkan di Jurnal Footage
Ditulis oleh akbar Yumni pada 15 Agustus 2011
Mempertanyakan kehadiran video di Indonesia sesungguhnya bukan sekedar menginsyafi definisi apa itu video? Merujuk ‘ke-disana-an’ pada sejarah teknologi di Indonesia yang dihadirkan pada agenda kolonialisme pada kala Hindia Belanda, sebagai sejarah teknologi, video memang tidak bisa diletakkan sebangun dengan sejarah sosial politik. Hal ini diperkuat dengan kesimpangsiuaran atas tanggapan kehadiran modernisme oleh beberapa kalangan dalam merumuskan nasionalisme, yang notabene bersamaan dengan agenda ‘pembaratan’. Soekarno ketika menyelipkan kata ‘televisi’ pada pernyataannya di tahun 1928, bukanlah sebagai agenda sejarah material yang berkesinambungan dalam mengusir penjajah, namun sebagai ide cita-cita nasionalisme.


Semangat zaman dalam membaca peran dan pengaruh video di Indonesia, tidak menemukan kerelatifannya. Sebagai medium yang popular, video tidak menjadi deteminan dalam membaca sejarah sosial. Sehingga pertanyaan yang lebih layak di hadirkan adalah justru bukan “Apakah Itu Video?” Namun sebaliknya, “Video, Apakah Itu?”—yang bisa memuat sekian banyak perihal kasuistik terhadap sejarah keberadaan-keberadaan video di Indonesia. Walter Benjamin menyatakan; The transformation of the superstructure, which takes place far more slowly than that of the substructure,has taken more than half a century to manifest in all areas of culture the change in the conditions of production, atau dalam kutipan yang sering didengungkan sebagai tidak sebangunnya kehadiran ide dengan kehadiran material.
Dongeng Rangkas, Sebuah Interupsi atas Persepsi tentang Realitas Kemiskinan
Ditulis oleh Ronny Agustinus
Telah terbit di Jurnal Footage pada Jumat, 29 Juli 2011 (12:20)
- -
Pada 28 Juli 2011, di GoetheHaus, saya menonton pemutaran perdana filem feature dokumenter Dongeng Rangkas (2011), produksi bersama Forum Lenteng (Depok) dengan Saidjah Forum (Lebak), yang merupakan salah satu output dari program pemberdayaan komunitas Akumassa yang dijalankan oleh Forum Lenteng. Film ini menyoroti kehidupan dua orang pedagang tahu di Rangkasbitung. Iron menjual tahu mentah (oncom serta bahan berkedelai lainnya) di pasar. Sementara Kiwong berjualan tahu goreng di kereta.

Saya hanya bisa menyarankan: tontonlah filem ini. Anda akan mendapati potret tentang realitas sosial (sekelumit) rakyat miskin Indonesia yang takkan tertayang dalam reality show atau berita-berita televisi. Kemiskinan, lazimnya, selalu ditampilkan hitam putih. Dalam program “Andai Aku Menjadi” umpamanya. Dengan dalih “mulia” untuk mengundang empati terhadap realitas sosial, program ini justru mereduksi gambaran tentang realitas sosial itu sendiri dengan formula yang selalu diulang-ulang (air mata yang dikucurkan si mahasiswa/i yang ditempatkan selama beberapa hari dalam kehidupan riil orang-orang desa atau tak berpunya) dan terutama, sikap yang menggantikan proyek emansipasi dengan kedermawanan (ketika pada akhir setiap episode selalu ada sumbangan bagi si miskin dari dermawan-dermawan kota dan kini gantian si miskin yang mengucurkan air mata). Ini, sebenarnya, tak lebih dari perpanjangan imajinasi orang kota tentang cara menjalani hidup sebagai orang miskin: serba susah, namun tetap jujur dan ikhlas, sebagaimana diilustrasikan oleh lagu D’Masiv “Jangan Menyerah” yang menjadi soundtrack program ini. Tak pernah orang miskin dalam program macam ini ditampilkan menipu atau mencuri. Padahal sebaliknya, dalam persepsi umum masyarakat kota, bersemayam suatu pandangan laten bahwa kriminalitas erat hubungannya dengan kondisi kemiskinan. Inilah yang disebut oleh sosiolog sebagai elite perceptions of the poor, kedua pandangan itu berkelindan seperti kedua sisi mata uang (Abram de Swaan, 2005).










