FACADE 5A

Video Puisi

2004 - 2006

Puisi menggunakan kata-kata sebagai kekuatannya. Tetapi apakah puisi selalu ditulis dengan susunan kata-kata sebagai landasannya dan dilisankan dengan sebentuk nyanyian terus-menerus sepanjang waktu? Bagaimana jika kata-kata dalam puisi tidak tertulis, tetapi digambarkan melalui frame-frame dalam video serta dilisankan dengan bahasa audio-visual yang terikat dengan durasi dalam mediumnya? Apakah peran bahasa audio-visual itu dapat menggantikan kata-kata tersebut dalam membangun daya imajinasi pelihatnya? Apakah ia juga masih dapat disebut puisi dengan mengganti mediumnya? Proyek ini mencoba untuk menggali kemungkinan-kemungkinan tersebut di atas, dengan berbagi pengalaman personal dari masing-masing partisipan. Proyek ini bukanlah sebagai proyek untuk membanding-bandingkan penggunaan medium dalam puisi, sehingga menyebabkan salah pengertian. Tetapi lebih dari itu, proyek ini mencoba untuk menggali kekayaan puisi sebagai bahasa yang universal. Karya dapat menggunakan segala macam teknik selama itu berhubungan dengan medium video dan puisi, dan bagaimana strategi partisipan dalam membangun daya imajinasi pemirsa dalam memaknai karyanya sebagai sebuah karya video.
Poetry uses words as his strength. But if poetry is always written in the order of words as its foundation and with a form of singing dilisankan constant over time? What if the words of the poem is not written, but is illustrated by the frames in the video and dilisankan with audio-visual language is tied to the duration of the medium? Is the role of audio-visual language that could replace the words in building pelihatnya imagination? Would he still be called a poem by replacing the medium?
KARYA VIDEO

Facade 5A  | 10’21” | 2004 | Hafiz

“Lihat sekeling dimana kamu tinggal. Suatu hari, sesuatu yang dekat dengamu menjadi sangat berbeda.”
“Look around where you live today. In one day, sometimes very different things happen.”

Jalan Tak ada Ujung (The Endless Steps) | 6’23” | 2006 | Maulana “Adel” Pasha

“Ketika arah dan alamat tidak lagi pasti, ketika petunjuk dan arahan mengajak anda berfantasi akan lokasi. Tidak ada patokan pasti, berjalan dalam sebuah labirin kota.”
“When directions and addresses are no longer certain. When clues and courses took you to fantasize on location. There are no certain measures, walking in a path of a labyrinth in the city. Welcome to the endless step of Jakarta! Please find your way around in our dense and warm neighborhood.”

Leave a Reply