Senin Sinema Dunia
Adalah Program menonton sinema-sinema dunia dengan subteks ber-Bahasa Indonesia diselingi obrol santai tiap senin malam di perpustakaan Forum Lenteng. Filem-filem ini merupakan hasil dari program penerjemahan subteks (subtitle) filem berbahasa asing ke dalam Bahasa Indonesia, DVD Untuk Semua. Filem-filem terpilih merupakan karya yang berpengaruh dalam perkembangan sejarah sinema dunia, program penerjemahan ini adalah sebuah usaha untuk mempermudah akses informasi kepada publik. Dengan tim penerjemah khusus dari Forum Lenteng di bawah koordinasi Divisi Penelitian dan Pengembangan Forum Lenteng, filem-filem ini diseleksi dan disunting secara ketat untuk menjaga kesinambungan cerita ataupun alur tiap filem.
Kenji Mizoguchi
Selama karirnya di dunia perfileman, Kenji Mizoguchi telah menyutradarai sebanyak 85 filem. Namanya di luar negaranya sendiri (baca: barat) didapat dari filem-filem yang dia sutradarai menjelang akhir karirnya. Di Jepang, Mizoguchi adalah sosok yang populer, filem-filemnya laku secara komersial maupun dipuji kritikus. Enam filemnya masuk dalam 200 filem Jepang terbaik sepanjang masa versi majalah filem bergengsi Kinema Junpo. Dan satu saat sutradara Jean-luc Godard pernah menyebutnya sebagai “sutradara terhebat dari Jepang, atau lebih mudahnya salah satu sutradara terhebat yang pernah ada.”
Kenji Mizoguchi adalah satu dari sedikit sosok sutradara jenius yang memegang peran penting di industri filem. Dirinya pernah memegang jabatan tinggi di perserikatan pekerja filem di industri filem Jepang saat itu dan filem-filemnya memenangi semua penghargaan bergengsi di sana. Tapi yang membuatnya dikenal sebagai salah satu master adalah ketelitian dalam hal produksi filem-filemnya secara teknis, dan gairahnya sebagai seniman.
Seperti Max Ophuls, long takes dan tema filem yang biasa mengangkat tentang wanita dalam perjuangannya menjalani hidup (serta mencari tempatnya di dunia ini) adalah dua hal yang paling mudah dikenali dari filem-filem Kenji Mizoguchi. Mizoguchi biasa menggabungkan koreografi rumit dari gerakan karakter-karakter dan kameranya sendiri untuk mendekatkan atau menjauhkan posisi penonton sebagai partisipan aktif terhadap situasi kondisi dimana drama dalam filemnya mengambil tempat. Kameranya hampir selalu menyajikan interaksi dua karakter atau lebih dalam satu frame secara intim, membuat jarak terhadap penonton untuk mengkritisi aksi dan drama personal pada saat bersamaan.
Mizoguchi “tercebur” dalam spesialisasi tema melodrama wanita karena studio awal tempatnya bekerja sudah kebanyakan stok sutradara untuk membuat filem samurai (jidai-geki) sehingga dirinyalah yang ditugaskan untuk mengembangkan tema tersebut. Dan sampai akhir karirnya, Mizoguchi tetap setia pada perhatian utamanya; simpati dan kekagumannya untuk wanita, serta kemarahannya pada ketidakadilan sistem sosial terhadap mereka.
Delapan filem yang akan diputar diharapkan dapat merepresentasikan sosok wanita-wanita dan gaya penyutradaraan Kenji Mizoguchi. Dibagi dalam dua periode yaitu masa sebelum perang (Elegi Osaka dan Kisah Sang Bunga Krisan Terakhir) dan sesudah perang (Cinta Sumako Sang Aktris, Cerita Pilu dari Oharu, Kisah Ugetsu, Sansho Sang Adipati, Pasangan Terlaknat, dan Jalan Pendosa), kedelapan filem itu juga bisa dilihat dari setting waktunya. Tiga filem dengan setting waktu modern (Elegi Osaka, Cinta Sumako Sang Aktris, dan Jalan Pendosa) dan lima lainnya yang merupakan period costume drama (Kisah Sang Bunga Krisan Terakhir, Cerita Pilu dari Oharu, Kisah Ugetsu, Sansho Sang Adipati, dan Pasangan Terlaknat).
Senin 33
Senin / 23 Juli 2012, 19.30 WIB.
Elegi Osaka // Naniwa Ereji
Kenji Mizoguchi, 1936
Jepang (71 menit)
Elegi Osaka adalah kolaborasi pertama Kenji Mizoguchi dengan penulis naskah Yoshikata Yoda yang akan terus bekerjasama selama kurang lebih dua puluh tahun. Ceritanya adalah tentang seorang perempuan muda yang bekerja sebagai operator telepon bernama Ayako (Isuzu Yamada). Ayako selingkuh dengan atasannya karena harus membayar utang ayahnya. Perbuatan Ayako membuat rencana pernikahan dengan kekasihnya Nishimura (Kensaku Hara) berantakan dan semakin menjerumuskan hidupnya ke lembah prostitusi lebih dalam lagi. Sehingga dirinya harus berurusan dengan pihak kepolisian dan membuatnya dipandang buruk baik oleh masyarakat dan keluarganya sendiri. Walau terdengar suram dan menyedihkan, Mizoguchi menampilkan sosok Ayako sebagai protagonis yang karismatis dan tangguh.
Senin 34
Senin / 30 Juli 2012, 19.30 WIB.
Zangiku Monogotari // Kisah Sang Bunga Krisan Terakhir
Kenji Mizoguchi, 1939
Jepang (142 menit)
Kisah Sang Bunga Krisan Terakhir dibuka dengan shot megah Teater Shintomi di jantung kota Tokyo tahun 1888. Filem ini berkisah tentang cinta terlarang antara pria dari keluarga penerus teater Shintomi dengan wanita yang bekerja di rumahnya. Teater tersebut adalah teater kabuki keliling yang populer dan dimiliki oleh suatu keluarga yang dikepalai oleh Kikugoro (Gonjuro Kawarazaki), sehingga kesempurnaan dan usaha mencapainya sudah mendarah daging dalam keluarga itu. Kikunosuke (Shotaro Hanayagi) sebagai anak Kikugoro diharapkan dapat melanggengkan tradisi baik yang telah dicapai kelompok teater tersebut, namun masalah disiplin dan kurang percaya diri menjadi beban tambah bagi dirinya.
Kenji Mizoguchi menciptakan sebuah filem indah dari kisah cinta yang tragis dan terinspirasi dari opera La Traviata karya Giuseppe Verdi. Cinta, ketekunan, dan pengorbanan disuguhkan dalam keunggulan artistik yang mencengangkan untuk zamannya. Melalui kemiringan dan sudut kamera yang tidak biasa dan terlihat sebagai ketidakseimbangan visual, secara metafora adalah suara hati Mizoguchi untuk menggambarkan ketidakadilan sosial bagi pasangan tersebut. Story of the Late Chrysanthemums adalah filem yang tenang tapi menghanyutkan, menyentuh sekaligus menakutkan akan kekuatan cinta tanpa batas, kekejaman tak terelakkan pada satu kelas sosial, dan harga yang harus dibayar untuk suatu ketenaran.
Senin 35
Senin / 6 Agustus 2012, 19.30 WIB.
Joyu Sumako no Koi // Cinta Sumako Sang Aktris
Kenji Mizoguchi, 1947
Jepang (96 menit)
Filem Cinta Sumako Sang Aktris ini adalah kolaborasi pertama Kenji Mizoguchi dengan “muse” nya Kinuyo Tanaka, aktris yang akan terus mendapat peran utama wanita di filem-filemnya sampai dekade 1950an. Seperti Kisah Sang Bunga Krisan Terakhir, filem ini juga menunjukkan ketertarikan besar Mizoguchi terhadap seni peran. Dan kali ini adalah tentang teater kabuki pimpinan Shimamura (So Yamamura) yang mempertaruhkan karirnya untuk membawa lakon teater dari Barat. Keadaan makin kompleks ketika dirinya jatuh cinta kepada aktris utamanya yang bernama Sumako Matsui (Kinuyo Tanaka) .
Jika pada filem-filem Mizoguchi sebelum masa perang, tindakan perlawanan dari para wanitanya lebih pada aksi yang mereka ambil, maka setelah perang mereka lebih berani membuka mulut menyuarakan pendapat dan keberatannya. Karakter Sumako ditampilkan secara brilian oleh Kinuyo Tanaka dengan range emosi yang luas. Mulai dari determinasinya untuk mendapatkan dan mempelajari peran dalam teater Shimamura sampai ke konflik individunya dengan anggota teater lain yang muncul akibat affair yang dijalinnya dengan Shimamura. Di filem ini juga terdapat penampilan di atas panggung dari Kinuyo Tanaka, mendahului peran Gena Rowlands dengan peran yang mirip dalam filem Opening Night karya John Cassavetes.
Senin 36
Senin / 13 Agustus 2012, 19.30 WIB.
Saikaku Ichidai Onna // Cerita Pilu dari Oharu
Kenji Mizoguchi, 1952
Jepang (148 menit)
Cerita Pilu dari Oharu adalah filem Mizoguchi yang membuat namanya dilirik di Barat. Filem ini mendapatkan penghargaan bergengsi di Festival Filem Venezia waktu itu. Berlokasi di Kyoto pada abad ke-17, filem ini menceritakan tentang seorang wanita cantik bernama Oharu (Kinuyo Tanaka) dalam rentang waktu sekitar 30 tahun. Kisah senang dan sedih diwarnai oleh datang dan perginya sosok pria yang mengisi hidupnya.
Kenji Mizoguchi dianggap sebagai salah satu sutradara yang paling memahami wanita, dengan kamera sebagai kuasnya menggambar keberadaan Oharu dalam dunia yang didominasi oleh kuasa pria. Pergolakan raga dan batin Oharu selama periode tersebut melewati berbagai persimpangan dan pengalaman spiritual yang transendental, menuju mantra utama dalam filem ini seperti yang diucapkan Oharu “aku tidak mau apapun dari dunia ini”.
Senin 37
Senin / 27 Agustus 2012, 19.30 WIB.
Ugetsu Monogotari // Kisah Ugetsu
Kenji Mizoguchi, 1953
Jepang (94 menit)
Kisah Ugetsu adalah salah satu kisah hantu paling populer dalam sejarah sinema dunia. Diangkat dari cerita pendek karangan Akinari Ueda, Kisah Ugetsu berlatar belakang abad 16 di saat perang sipil sedang terjadi, semakin menyulitkan hidup keluarga Genroku (Masayuki Mori) yang sehari-harinya adalah pembuat tembikar. Pertolongan dari sosok anggun dan misterius bernama Lady Wakasa memberi harapan Genroku untuk keluar dari kesusahan tersebut, sehingga Genroku melupakan istri dan anak yang menunggunya di rumah.
Pemisahan antara realitas buta dan keindahan/kesuksesan yang imajinatif saling menghimpit disini, dan telah dibangun Mizoguchi dari awal karirnya. Hidup tidak pernah mudah; dan karakter-karakternya terus berjuang secara brutal hari ke hari untuk tetap bernafas melalui secercah harapan yang muncul di hadapan mereka walau samar-samar dalam bentuk cinta, uang, dan kekuasaan.
Senin 38
Senin / 3 September 2012, 19.30 WIB.
Sansho Dayu // Sansho Sang Adipati
Kenji Mizoguchi, 1954
Jepang (124 menit)
Dalam masyarakat yang hidup dalam sistem feudal, seorang pemimpin daerah menentang perintah dari gubernur setempat yang mengakibatkan dirinya diasingkan ke daerah lain. Dalam perpisahannya, dia memberi petuah kepada puteranya “tanpa belas kasihan, manusia sama saja dengan binatang.” Enam tahun kemudian, istri dari pemimpin daerah tersebut, Tamaki (Kinuyo Tanaka) beserta puteranya Zushio dan Anju melakukan perjalanan untuk mendatangi suami dan ayah mereka. Lalu kemudian hanya nasib tragislah yang mereka temui.
Kenji Mizoguchi menghamparkan keseimbangan yang peka terhadap manusia dan lingkungannya melalui komposisi visual yang indah dari sebuah kisah tentang keberanian dan kemuliaan jiwa manusia. Walau dunia disajikan dengan kekejian yang tak dapat ditoleransi akal sehat, visual dari Sansho the Bailiff memanjakan mata yang berujung pada kasih sayang, ketekunan, dan kisah moral yang abadi tak lekang dimakan waktu.
Senin 39
Senin / 10 September 2012, 19.30 WIB.
Chikamatsu Monogotari // Pasangan Terlaknat
Kenji Mizoguchi, 1954
Jepang (102 menit)
Filem ini diadaptasi dari drama bunraku dari era Genroku (1688-1703) karya Monzaemon Chikamatsu, dan adalah kisah cinta antara pekerja di suatu percetakan kalender di kota Kyoto abad 17 bernama Mohei (Kazuo Hasegawa) dengan istri pemilik percetakan Osan (Kyoko Kagawa) dimana hukuman untuk suatu tindakan perselingkuhan adalah disalib di depan umum. Cinta sejati dan norma masyarakat adalah pertaruhan besar bagi kedua pasangan tersebut, terlebih lagi bagi Osan sebagai wanita yang berasal dari strata sosial yang terpandang.
Pasangan Terlaknat mencerminkan suatu kungkungan yang diakibatkan oleh perbedaan strata tersebut, dalam dunia yang penuh kemunafikan dan sarat objektifikasi terhadap perempuan. Sebuah usaha Mizoguchi yang provokatif untuk mempertanyakan sampai batas mana kedua hal di atas dapat diberi toleransi oleh dunia Mohei dan Osan menderita. Di tangan Mizoguchi lah, dilema sepasang kekasih tersebut membuat Akira Kurosawa mendeskripsikannya sebagai “sebuah mahakarya hebat yang hanya bisa dibuat oleh Kenji Mizoguchi.”
Senin 40
Senin / 17 September 2012, 19.30 WIB.
Akasen Chitai // Jalan Pendosa
Kenji Mizoguchi, 1956
Jepang (87 menit)
Jalan Pendosa adalah filem terakhir dari Kenji Mizoguchi sebelum meninggal di tahun yang sama dengan dirilisnya filem ini. Dan secara kebetulan filem ini mempunyai tema yang sering muncul dalam filem-filem Mizoguchi semenjak awal karirnya, yaitu prostitusi. Di sini Mizoguchi lebih tertarik untuk menilik kehidupan sehari-hari para wanita tuna susila dalam sebuah lokalisasi lengkap dengan rasa benci, impian, iri, dan persaingan di antara mereka, dibanding membuat mereka sebagai objek yang sentimental akan profesinya.
Pengabdian hidup untuk profesi merupakan siklus tragis dan ekploitatif terhadap tubuh mereka yang menimbulkan rasa kesepian dan pertanyaan—masih adakah bagian dari jiwa raga yang masih baik dan layak dipertahankan dalam menjalani sisa hidup mereka?
Walau Kenji Mizoguchi tidak pernah menyatakan dirinya tertarik dengan dunia politik atau membuat filem dengan alasan politis, filem-filemnya mempunyai implikasi langsung terhadap masyarakat Jepang, khususnya yang wanita. Tak terkecuali dengan Street of Shame, dimana filem ini sukses sebagai filem box-office, namun mengakibatkan keluarnya larangan pada praktik prostitusi di Jepang saat itu (termasuk Geisha).
Senin / 30 Juli 2012, 19.30 WIB.
br /










